News Update :

Terpopuler

#AYTKTM

#AYTKTM

Taujihat

Opini

Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro

Senin, April 04, 2016


Oleh : Anis Matta, Lc.


"Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak?"

RASANYA PERBINCANGAN kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana "mengelola" ketidaksetujuan itu?

Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.

Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.

Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.

Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan" seperti itu? 

Pertama

marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu "upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.

Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, "Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."

Kedua, 

marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun "karena faktor setan" kita mengatakannya demikian.

Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., "Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.

Ketiga, 

seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.

Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.

Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.

Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.

Keempat, 

sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.

Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.

Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak ?


Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

PKS Kota Cirebon Adakan Futsal Rutin

Minggu, Maret 27, 2016


Untuk menjaga kebugaran kader, Bidang Kepanduan dan Olahraga [BKO] PKS kota cirebon mengadakan kegiatan futsal. Acara yang rutin di adakan setiap hari minggu pagi tersebut, bertempat di lapangan futsal radar arena di jl perjuangan Kota Cirebon,  Kegiatan tersebut di ikuti oleh para kader pks kota cirebon, baik para pengurus DPD,DPC, DPRa, dan juga oleh kader non struktur, 

ketua BKO PKS Kota Cirebon, Nanang Solihin mengatakan selain dalam rangka menjaga kebugaran para kader, kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk menjalin silaturahim antar kader,di harapkan dengan adanya kegiatan ini persaudaraan antar kader bisa terjalin dengan lebih erat. 

Ketua DPD PKS Kota Cirebon - H Karso, mengatakan beliau sangat menyambut baik kegiatan tersebut, dan diharapkan hal tersebut bisa berjalan terus menerus dimasa yg akan datang, dan juga di harapkan kegiatan ini bisa di ikuti oleh seluruh kader di semua level, pungkasnya. (nsh)


Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Palagan Ambarawa, Pembuktian Pemuda Soedirman

 Oleh : Slamet Widodo 
        Perawakannya kurus, tidak sekokoh perwira-perwira lainnya. Pelatihan PETA sebagai Daidancho memang pernah diikutinya, namun sifat hakikinya  adalah seorang guru sekolah dasar yang pendiam, teguh hati, lemah lembut dalam bertutur kata, tetapi tegas sebagai seorang pemimpin ketentaraan.  Lebih banyak mendengar pendapat orang lain, tetapi cepat dalam mengambil kesimpulan yang tepat. Sekali putusan diambil, tidak dapat mudah dirubah lagi oleh siapapun.

           Konferensi besar Tentara keamanan rakyat (TKR) yang di gelar pada tanggal 12 Nopember 1945 di MTTKR (Markas Tinggi Tentara Keamanan Rakyat) di Gondokusuman – Yogyakarta  yang dihadiri hampir semua panglima divisi dan resimen  dan disaksikan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sunan Pakubuwono XII, serta Mangkunegoro X, akhirnya mayoritas memilih pemuda Soedirman yang saat itu masih belia, baru berusia 29 tahun, mantan Opsir muda PETA berpangngkat  Daidancho , mantan guru sekolah rendahan dan mubaligh keliling.

         Oerip Sumohardjo yang usianya jauh lebih tua yang memperoleh  peringkat kedua saat pemilihan, kemudian ditetapkan menjadi kepala staf umum TKR. Latar belakang militernya sebagai seorang bekas opsir KNIL membuat dirinya dicurigai oleh banyak perwira TKR yang usianya rata-rata masih muda.  Hal ini dapat dimengerti karena perwira TKR yang umumnya berlatar belakang PETA, Hizbullah, Sabilillah, Heiho, Keibodan, dan Seinendan dilatih militer oleh Jepang, sedangkan KNIL adalah tentara resmi yang digaji pemerintah Hindia Belanda sebelum Jepang datang di Indonesia.

        Pemuda Soedirman  dilantik presiden Soekarno menjadi panglima besar TKR pada tanggal 18 Desember 1945. Surat kabar Belanda dengan nada mengejek  serta meremehkan memuat komentar Jendral Spoor (panglima Militer Belanda di Indonesia) : “.....republik Indonesia mengangkat seorang guru sekolah rendah menjadi panglima besar.  Tahu apa guru sekolah itu !”. Wartawan-wartawan Indonesia sendiri banyak yang mengira bahwa Soedirman yang menjadi panglima besar TKR adalah residen Surabaya yang terkenal itu karena gigih melawan sekutu pada perang 10 Nopember 45.  Bung Karno sendiri tidak mengenal Pemuda Soedirman secara pribadi, tapi menantu  Haji Umar Said Cokroaminoto (ketua Syarekat Islam) ini percaya  pada laporan yang diterima dari hasil Konferensi Besar TKR pada 12 Nopember 45 itu, karenanya merestui, lalu melantiknya.

Menghancurkan Inggris

            Pasukan Inggris dan Belanda yang dipimpin Brigjen Bethel yang baru saja memenangkan perang dunia II mendarat di Semarang dan menuju  Magelang lewat Ambarawa sambil menebarkan teror  dengan menganiaya, menculik dan menyiksa para pemuda disepanjang jalan. Hal ini menimbulkan kemarahan di dada segenap lasykar-lasykar baik PETA, Hizbullah dan Sabilillah. Terjadilah pertempuran secara sporadis di sepanjang jalan itu tanpa terkoordinir secara baik dalam satu komado.

            Magelang dan Ambarawa di zaman Belanda merupakan tangsi dan tempat latihan bagi tentara KNIL Belanda, karena letaknya amat strategis. Ada sebuah benteng terkenal yakni benteng Williem – 1 Banyubiru yang sepanjang tiga zaman terus dipergunakan  sebagai markas tentara. Pimpinan TKR menyadari betapa penting dan strategisnya kota Ambarawa.  Jatuhnya Ambarawa ke tangan pasukan sekutu / Belanda dengan sendirinya dapat membahayakan kedudukan pertahanan seluruh Jawa bagian Tengah.

            Soedirman kemudian membentuk sebuah markas pusat kooordinasi pertempuran  guna mengatur siasat dan pengerahan pasukan yang datang dari berbagai daerah agar terpadu, teratur laksana bangunan yang kokoh yang disusul pembagian sektor-sektor dengan rasio satu senjata api  untuk lima orang secara bergilir. Komandan pertempuran saat itu dipegang oleh Letkol Isdiman, yang kemudian gugur diserang  Cocor merah sekutu di gedung sekolah dasar desa Kalurahan pada 26 Nopember 45.

             Pemuda Soedirman disamping memimpin (MPP) markas pimpinan pertempuran, lalu terjun langsung ke front untuk memeriksa situasi guna menyusun strategi penggempuran.  Kedatangan Pemuda Soedirman membangkitkan semangat dan mempertebal tekad kesatuan-kesatuan yang ada di sekitar Ambarawa. Soedirman mengkonsolidasikan, berkoordinasi  serta menyusun taktik yang matang dengan terciptanya satu komando dengan menggunakan strategi “ Supit Urang” yang sangat terkenal itu, yang diawali sejak pukul 04.30 Subuh. Dalam waktu kurang setengah jam saja, Sekutu Inggris dan Belanda berhasil dijepit dan hanya bisa memuntahkan peluru meriam Howitzer  tanpa arah. Hari ke-empat, yakni 15 Desember  45, pasukan TKR dan lasykar-lasykar Hizbullah dan Sabilillah berhasil membentuk gerakan menjepit sepertu supit Udang. Pasukan sekutu dengan tergopoh-gopoh mencoba meloloskan diri menuju Semarang, tapi disepanjang perjalanan tetap di hajar tanpa ampun  tidak  sempat menyelamatkan harta dan teman-temanya  yang mati mengenaskan ditangan pejuang Indonesia.

        Pertempuran Ambarawa adalah suatu bukti pagelaran militer yang teratur dari sebuah taktik pertempuran yang diterapkan dan diciptakan oleh pimpinan yang cakap dan trampil. Sekutu Inggris dan Belanda yang baru saja menang perang dunia II tidak menduga sama sekali hal itu. Kedahsyatan perang Ambarawa ini  tercermin dari laporan pihak Inggris yang menulis : “ The battle of Ambarawa had been a fierce struggle between Indonesian troops and pemuda and, on the other hand , Indian soldiers, assisted by Japanese company ......” yang juga ditambahi kalimat , “ The British had bombed Ungaran intensively to open the road and strafed Ambarawa from air repeatedly. Air raids too had taken place upon Solo and Yogya , to destroy the local radio stations , from where the fighting  spirit was sustained .....”.  Kemenangan besar pada 15 Desember 45  ini oleh keluarga besar TNI diperingati sebagai Hari Juang Kartika.

Pamungkas

          Proklamasi yang dikumandangkan pada hari Jum’at Legi pukul 10.00  tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriyah bertepatan dengan 17 Agustus 1945 ini akhirnya berbuah manis setelah melalui perjuangan panjang putra-putri Indonesia. Akhirnya pada tanggal 27 Desember  1949 pemerintah kerajaan Belanda  mengakui kemerdekaan Indonesia. Satu bulan kemudian, pemuda Soedirman,  sang lelaki sejarah, mantan aktifis kepanduan  Hizbul Wathan, mantan guru sekolah rendahan itu menemui sang khalik pada 29 Januari 1950 pada usia yang masih sangat belia, 34 tahun.

  • Pemerhati Sejarah Sosial Budaya, tinggal di Cirebon




Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Syafruddin Prawiranegara, Sang Penjaga Republik


Oleh : Slamet Widodo

          Pada tanggal 9 Ramadhan 1364 H/17 Agustus 1945 Hari Jum’at Legi pukul 10.00 WIB, Bung Karno membaca teks proklamasi dengan khidmat, khusu’ dan menggetarkann jiwa. Fakta sejarah tersebut seperti sengaja dihilangkan dalam benak generasi muda pewaris negeri ini. Termasuk ingatan akan “sang penjaga” Republik, Syafrudin Prawiranegara.
          Saat Soekarno memilih Menyerah kepada Belanda, Soedirman beserta pasukannya bergerilya keluar masuk hutan,  Syafruddin Prawiranegara segera membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi Sumatra Barat . Sebagai ahli hukum, dirinya faham betul, bahwa tanpa pemerintahan, Indonesia berarti telah tidak ada. Karenanya, di belantara hutan Sumatra Barat, Syafruddin Prawiranegara dan kabinetnya menjalankan pemerintahan. Sayang sekali, walau dengan posisi yang sangat vital tersebut,  penghargaan sebagai pahlawan nasional dari pemerintah baru diperoleh dipenghujung era SBY.  Namanya  diabadikan di komplek perkantoran Bank Indonesia (karena sebagai perintis  dan Gubernur BI pertama)  sebagai  nama menara Syafruddin Prawiranegara saat Gubernur Bank Indonesia di jabat oleh Burhanuddin Abdullah.

Keluarga Pejuang
         Syafruddin Prawiranegara Lahir pada 28 Februari 1911 di Anyer kidul – Serang Provinsi Banten. Tubuhnya mengalir darah para pejuang Banten dan Minang. Buyutnya adalah Sutan Alam Intan, keturunan raja Pagaruyung Sumatra Barat. Sebagai pejuang Paderi yang gigih, pengikut Tuanku Imam Bonjol ini oleh penjajah Belanda lalu dibuang ke Banten. Di sini, “sang emas”  lalu  diambil menantu oleh bangsawan Banten yang melahirkan kakeknya , kemudian mempunyai anak bernama Arsyad Prawiraadmadja, ayah Syafruddin Prawiranegara.  Sebagai pejuang, ayahnya juga  dibuang penjajah Belanda ke Jawa Timur.
Sebagai lulusan RHS (Rechts Hoge School, Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta dan menyandang gelar Mr. (Meester in de Rechten, Sarjana hukum ), banyak sekali kiprah tokoh sederhana ini. Selain mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Ngarai Sianok - Bukit Tinggi - Sumatra Barat saat Soekarno menyerah pada Belanda, Syafruddin Prawiranegara adalah pencetus pembuatan uang milik pemerintah yang populer dengan sebutan uang ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) yang diterbitkan pertama kalinya pada 30 Oktober 1946. Penerbitan ORI ini merupakan simbol kedaulatan Negara Indonesia  sebagai bangsa merdeka. Sebagai bangsa yang sudah merdeka pada hari Jum’at legi, pukul  10.00 tanggal 9 Ramadhan 1364 H / 17 Agustus 1945, Syafruddin tidak ingin menggunakan uang Gulden Belanda. Berbeda dengan kebijakan di bidang hukum, sejak merdeka hingga kini kita masih memakai produk hukum penjajah kolonial Belanda.

Bapak Bank Indonesia
          Pada saat menjabat sebagai mentri keuangan tahun 1950, beliau mengeluarkan kebijakan pemotongan nilai uang menjadi separoh untuk nominal Rp 5 ke atas. Kebijakan ini popular dengan istilah “Gunting Syafruddin”, yang dikeluarkan dalam rangka “Membersihkan” sistem moneter dan mengurangi volume uang yang beredar guna menurunkan harga. Begitulah gambaran sosok yang dikenal sangat taat beragama, jujur, tegas dalam bersikap serta memiliki rasa nasionalisme  dan integritas yang tinggi.
          George Mc T. Kahin , guru besar dari Cornell University Amerika Serikat yang menyaksikan langsung jalannya hiruk pikuk revolusi Indonesia era 45-an  menggambarkan sosok Syafruddin Prawiranegara pada terbitan South east Asia Program Publications at Cornell university, “….Never tainted by corruption and with a reputation for honesty, for thrightness, and solid integrity, he emerged in the 1970s and 1980s as one of the most courageous and respected critics of the Suharto government” .
          Sosok Syafruddin Prawiranegara memang tidak bisa dilepaskan  dari sejarah panjang perjalanan Bank Indonesia sebagai bank sentral Republik Indonesia. Beliau adalah pribumi pertama yang menjabat sebagai presiden De Javasche Bank (DJB) pada tahun 1951, sebagai cikal bakal Bank Indonesia, sekaligus presiden DJB yang terakhir serta menjadi gubernur Bank Indonesia yang pertama. Banyak kebijakan-kebijakan dan pemikiran-pemikirannya  yang mencirikan pandangan-pandangan yang luas dan jauh ke depan.
          Terkait kebijakan pemerinta Republik Indonesia yang akan menasionalisasi De Javasche Bank (DJB), Syafruddin Prawiranegara segera mengeluarkan kebijakan program Indonesianisasi terhadap seluruh pegawai, sebab kala itu pegawai Belanda masih dominan. Dari sisi kelembagaan, beliau adalah peletak dasar pondasi mengenai kemandirian bank sentral di dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter. Beliau menegaskan perlunya pemisahan yang tegas  antara bank sentral dengan pemerintah. Pemisahan yang tegas ini bukan berarti bahwa pemerintah tidak mempunyai kekuasaan  terhadap bank sentral, namun dimaksudkan agar bank sentral diberikan wewenang penuh untuk bekerja secara otonom di dalam melaksanakan tugas sesuai yang telah diamanatkan oleh undang-undang.
           Dalam bidang moneter, kebijakan yang ditempuhnya kala itu adalah memberlakukan pembatasan jumlah uang primer  dan pembatasan pemberian uang muka kepada pemerintah dalam rangka menjaga stabilitas rupiah. Pembatasan uang primer dilakukan dengan menetapkan bahwa 20 %  dari jumlah semua uang kertas  bank, saldo rekening Koran dan tagihan lain yang dapat di tagih  dari Bank Indonesia harus dijamin dengan emas dan devisa. Sementara dalam hal pemberian uang muka kepada pemerintah untuk satu tahun anggaran, ditetapkan batas setinggi-tingginya 30 % dari penghasilan Negara pada tahun anggaran sebelumnya.
          Peredaran uang dan lalulintas pembayaran di bawah kepemimpinan Syafruddin Prawiranegara , Bank Indonesia selalu berusaha menjaga terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan alat pembayaran baik dari segi kecukupan nilai, komposisi pecahan  serta ketepatan waktunya. Uang yang pertama kali dikeluarkan oleh Bank Indonesia ditandatangani oleh Syafruddin Prawiranegara adalah uang dengan gambar utamanya menampilkan seri kebudayaan dengan emisi tahun 1952 dan diedarkan pada 2 juli 1953. Uang ini dikeluarkan dengan tujuh pecahan dengan rentang nilai nominal dari 5 rupiah hingga 1.000 rupiah. Uang kertas Bank Indonesia yang terakhir beliau tandatangani bergambar  seri hewan dalam tujuh pecahan dengan rentang nilai nominal 5 rupiah hingga 1.000 rupiah. Yang unik, uang seri ini tidak mencantumkan tahun terbit atau tahun emisinya. Pada Januari 1955, dikeluarkan ketentuan yang mengatur tentang pengawasan  terhadap urusan kredit . Peraturan tersebut merupakan peraturan pertama yang mengatur pengawasan bank di Indonesia.

Memperingatkan Soekarno melalui PRRI
          J. Riberu menyebut Syafruddin Prawiranegara sebagai sosok Homo ethicus dalam berpolitik. Dia lebih memilih  kebenaran daripada kekuasaan. Walau resikonya hidup menderita di hutan, baik saat memimpin PDRI maupun PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) yang berbasis di Sumatra Tengah. Karenanya, saat melihat soekarno telah jauh keluar dari rel konstitusi, jalan itulah yang ditempuh aktifis Masyumi tersebut. Kala itu, hanya Masyumi yang menjadi lawan tunggal Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terus menempel ketat Paduka yang Mulia Pemimpin Besar revolusi Indonesia Soekarno, yang ditetapkan sebagai presiden seumur hidup tersebut. Ditambah lagi ketimpangan pusat dan daerah-daerah.  Sikap tegasnya untuk mengingatkan “putra sang fajar” didukung Hatta, saat memberikan arahan di Paliko – Payakumbuh,  yang juga mengundurkan diri dari Wakil presiden. Pecahnya Dwi tunggal Soekarno-Hatta semakin menampilkan wajah buruk orde lama kala itu.

Pamungkas
          Masa zaman orde baru, beliau aktif di dunia dakwah dengan menjadi ketua Korp Mubaligh Indonesia (KMI) dan berkali-kali dicekal untuk tidak naik mimbar. “Saya ingin mati di jalan Islam. Dan Ingin menyadarkan , bahwa kita tidak perlu takut kepada manusia , tapi takutlah kepada Allah” ujar Tokoh Masyumi tersebut. Sebagaimana umumnya aktifis-aktifis  Masyumi yang hidup dalam keserhanaan, Walau menjadi Gubernur Bank Indonesia yang pertama, toh, setelah tidak menjabat sempat tidur di garasi untuk waktu yang cukup lama. Pada akhirnya , sang lelaki sejarah tersebut, “presiden ke-dua” de facto Yang pernah dimiliki bangsa Indonesia , dipanggil Allah  pada 15 Februari 1989,  dimakamkan di pemakaman umum Tanah Kusir Jakarta, bukan di Taman Makam Pahlawan.
Penulis,  Pemerhati Sejarah Sosial Budaya, Tinggal Cirebon






Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Ustadz Idris Abdusshomad: Menghiasi Lisan dengan Kejujuran (1/2)


Kejujuran adalah akhlak yang sangat mulia. Pada beberapa ayat Al-Qur’an, AllahSubhanahu Wa Ta’ala mensifati sejumlah Nabi dan RasulNya dengan sifat jujur. Seakan sifat ini adalah sifat yang mendominasi dalam kepribadian mereka.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al kitab. (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang selalu jujur lagi seorang Nabi” (Maryam: 41).
FirmanNya juga: “Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan Dia adalah seorang Rasul dan Nabi”. (Maryam: 54).
Dalam ayat lain “Yusuf, Hai orang yang Amat jujur (dipercaya)” (Yusuf: 46).
Kemudian firmanNya: “Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat jujur dan seorang Nabi” (Maryam: 56).
Sifat shidiq adalah sifat Rasulullah Saw. yang paling populer dikenal penduduk Mekah ketika itu, sehingga mereka menjulukinya dengan ash-shiddiq al-amiin, orang jujur yang terpercaya. Dan Khadijah radiyallaahu ‘anha juga pernah mensifati beliau tepat setelah peristiwa turun wahyu pertama: “Sungguh engkau senantiasa menyambung silaturahmi dan berkata jujur” (HR. Bukhari).
Setiap Muslim, terutama pada zaman ini, perlu kembali bercermin, untuk mengukur sejauh mana sifat mulia ini terpatri dalam jiwa dan karakter.
Lisan adalah fasilitas dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang begitu berharga. Dengan karunia ini, seorang hamba mampu melakukan ibadah secara lebih optimal. Betapa banyak ibadah lisan yang begitu bernilai di sisiNya.
Namun seseorang juga bisa terjerumus kepada murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala, lantaran tidak menjaga lisan. Ia bagai pisau bermata dua. Betapa banyak kerusakan yang terjadi di muka bumi ini, lantaran tidak menjaga lisan. Maka RasulullahShalallaahu ‘Alaihi Wasalam memerintah kita, untuk senantiasa menjaganya: “Siapa beriman kepada Allah dan hari Akhirat, maka berkatalah yang baik atau diam” (HR. Bukhari).
Dalam konteks personal pelaku, jujur lisan bisa membawa pelakunya kepada kondisi ketenangan, karena ia sudah berkata benar. Orang beriman yang jujur lisan akan merasa ketentraman. Itu karena ia yakin perbuatan jujurnya akan diridhai AllahSubhanahu Wa Ta’ala Dzat Yang Maha Mengetahui segala tingkah lakunya.
Namun siapa yang tidak jujur, akan merasakan sebaliknya. Si Pendusta akan merasakan ketidaknyamanan atau gelisah, meskipun sedikit kadarnya. Atau mungkin, ia sama sekali tidak merasa gelisah, tetapi yang demikian berarti bahwa hatinya sedang “sakit parah”, wal’iyaadzu billaah.
Baik menimbulkan rasa gelisah ataupun tidak, dusta akan membawa pelakunya kepada keburukan dan kerusakan. Bersambung…
Sumber: Ikadi.or.id (dengan penyesuaian seperlunya)



Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Muhamad, "Cinta, Kerja dan Harmoni"

Rabu, Maret 12, 2014


Muhamad, caleg PKS nomor urut 6 dari Dapil 1 Harjamukti ini sangat dikenal oleh warga, khususnya warga Dukuh Semar Kelurahan Kecapi. Pria berkecamata ini sudah aktif di PKS sejak tahun 1998, usai sekolah di  bangku SMK Kota Cirebon. Sempat bekerja di bengkel sebuah dealer, pria kelahiran Cirebon, 36 tahun yang lalu ini dikenal sebagai sosok yang peduli warga dan jago lobi. Sehingga, lewat  kemampuan lobinya sering berhasil mengadvokasi warga yang kurang mampu baik di bidang kesehatan dan pendidikan. Bahkan, asisten anggota DPRD dari PKS ini sering mengadakan sembako murah dan mendatangkan bantuan buat warga  dari hasil lobi-lobinya.


Muhamad juga dikenal dekat dengan anak-anak muda, dan sering mengadakan kegiatan yang positif bagi anak-anak muda. Karena sikap supel dan kepemimpinannya yang menonjol dan loman terhadap bawahan, Muhamad kini dipercaya untuk memimpin DPC PKS Kecamatan Harjamukti. Sebelumnya, Muhamad  dipercaya sebagai Ketua DPC Pekalipan.  Jika terpilih nanti, bapak tiga anak yang menggeluti bisnis hantaran pengantin ini, bertekad akan menjadikan kebijakan parlemen yang pro rakyat dan lebih keras lagi dalam memperjuangkan hak-hak rakyat. 

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Nuni Agustina, A.Md, "Karena Wanita Memang Istimewa"

Selasa, Maret 11, 2014


Nuni Agustina A.Md adalah Caleg PKS no urut 5 dari dapil 1 Harjamukti. Ia merupakan sosok caleg PKS yang aktif dalam beroganisasi. Semasa kuliah di STT Telkom Bandung, perempuan yang lahir di Cirebon 30 tahun yang lalu ini aktif di berbagai oraganiasi kemahasiswaan, seperti Lembaga Dakwah Kampus, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM STTTelkom dengan posisi sebagai bendahara organisasi). Sempat bekerja di MQ Radio milik Aa Gym, dan  PT Industri Telekomunikasi Indonesia Bandung, perempuan berkerudung ini akhirnya lebih memilih untuk kembali mengabdi di kampung halamannya di Jalan Mayor Sastra Atmaja Kecamatan Lemahwungkuk. Di kampung halamannya, ibu dua anak ini terus aktif di masyarakat.


Di tengah kesibukannya sebagai owner Nunia Craft dan Handmade Trainer, Nuni terus membina masyarakat dengan aktif sebagai pendamping kader posyandu (PKP) Kec Lemahwungkuk.. Bahkan, jiwa bisnisnya dia salurkan dengan ikut terjun dalam Komunitas Ibu-Ibu Doyan Bisnis (IIDB) se-wilayah 3 Cirebon. Dengan segudang aktivitasnya  dalam membina ibu-ibu, jika terpilih sebagai anggota dewan, Nuni bertekad akan mendorong anggaran yang berpihak kepada pemberdayaan kaum hawa agar lebih mandiri serta bisa membantu ketahanan keluarga. Karena menurut  istri dari Reza Irawan Awali, ketahan keluarga merupakan inti dari perbaikan masyarakat. 

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Syafi'i, " Menebar Kebaikan, Menjadi Agen Perubahan "

Senin, Maret 10, 2014


Syafi'i Lc, adalah caleg PKS Dapil 1 no urut 4 untuk DPRD Kota Cirebon. Pria 49 tahun ini adalah pribadi yang sederhana dan murah senyum, hal inilah yang membuat beliau mudah diterima masyarakat ditempat tinggalnya di Kampung Balong Kelurahan Kecapi. 

Jebolan LIPIA Jakarta yang menguasai bahasa Arab dan Inggris ini  dikenal sosok yang bersahaja. Di tengah kesibukannya menekuni bisnis kayu kiloan, pria beranak 4 ini, aktif membina masyarakat. Sehingga, di  rumahnya ramai dengan kajian ilmu baik majelis ilmu yang dihuni anak muda, majelis taklim ibu-ibu maupun anak-anak yang belajar mengaji. Pria pembelajar cepat ini juga aktif di berbagai oraganisasi seperti IKADI, Arrisalah dan  korps mubaligh. Hal inilah yang mendorong PKS mengamanahi beliau untuk menjadi caleg PKS dari dapil 1 Harjamukti.

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Fatikhul Muhadi, S.Ag, "Mencetak Rakyat Pinter, Bener, Berani"

Kamis, Maret 06, 2014


Fatikhul Muhadi, S.Ag adalah Caleg DPRD Kota Cirebon dari Dapil Harjamukti, no urut 3. Beliau sangat familiar di kalangan aktivis dakwah, kiai dan pondok pesantren. Maklum, kendati masih usia 40 tahun, ustadz Fatih begitu disapa, memiliki pengetahuan agama yang mumpuni karena lahir di lingkungan keluarga yang taat beragama dan besar dalam tradisi pesantren. Alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan Perguruan Tinggi Hasyim Asari ini dikenal sosok yang tegas, disiplin dan humoris.

Pria berkacamata ini, sangat konsen dalam dunia dakwah dan pendidikan. Sebagai bentuk konsistensi di bidang pendidikan, Ustadz Fatih ikut terlibat dalam membesarkan SDIT Sabilul Huda. Kini, selain aktif berwirausaha, ustadz Fatih yang tinggal di Argasunya tetap membina masyarakat sekitar dan mengisi majelis taklim, memberikan bimbingan mental bagi mahasiswa, pengurus masjid, karyawan perkantoran dan membuat pengajian bagi para pengusaha muslim. Bahkan, Ketua Bidang Pendidikan dan Dakwah Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kota Cirebon ini, menciptakan sebuah metode cepat membaca Al Qur’an, yang di kenal sebagai metode Fathah. Melihat kiprah beliau dalam dunia pendidikan serta dakwah yang sangat luas, PKS tanpa ragu lagi untuk mencalonkan pria yang memiliki motto “Mencetak Rakyat Pinter, Bener, Berani” itu untuk menjadi calon anggota legislatif nomor urut 3 di Dapil Kecamatan Harjamukti.

Berikut adalah sekilas pengalaman organisasi beliau;
1. Kepala SDIT Sabilul Huda
2. Kabid PD IKADI Kota Cirebon
3. Ketua Yayasan Sabilul Faros
4. Pengasuh Majelis Ta’lim Ulumul Qur’an
5. Dosen IAIN Syakh Nur Jati Cirebon
6. Pengurus MUI Kota Cirebon

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Jangan Pilih PKS !

Rabu, Maret 05, 2014

Oleh: Mustofa B. Nahrawardaya


AJAKAN ini sudah saya dengar dari tetangga, kerabat, teman kerja, hingga tukang ojek, sejak 2004 silam. Alhasil, saya pun akhirnya menjadi orang yang paling benci dengan PKS (Partai Keadilan Sejahtera).

Pada tahun itu, kesibukan kerja saya hanya berkutat antara Surabaya-Jakarta, dan sesekali ke Klaten -- menengok orangtua dan tiga kakak saya yang memang ada di kota tanah kelahiran saya itu.

Apalagi kalau sedang di Klaten, maka ajakan menghindari Partai yang logonya didominasi warna putih, hitam dan kuning ini semakin kencang. Bahkan nyaris tidak saya lihat bendera PKS selama saya di pedalaman Klaten.

Sepanjang perjalanan dan perkampungan, pada setiap menjelang Pemilu, yang banyak saya lihat adalah bendera berwarna merah, khas dengan kepala bantengnya.

Ajakan semacam itu, bertambah santer ketika di pojok-pojok kampung saya banyak anak-anak muda pengangguran nongkrong sambil main kartu.

Merekalah  penyambung ajakan yang paling dahsyat yang menyebar luaskan ajakan tersebut kepada anak-anak muda lainnya. Anak muda yang tidak tahu menahu seperti saya, banyak yang ikut-ikutan. Siapa anak-anak muda ini?

Anak-anak muda ini adalah lulusan SD hingga SMA yang tidak bisa bekerja, dan menunggu "kode" dari saudara-saudaranya di Jakarta yang rata-rata bekerja secara turun temurun sebagai penjual es puter dan tukang bangunan.

Gerombolan ini sudah ada sejak saya kecil. Biasanya, setelah Idul Fitri atau setelah Lebaran, mereka akan diajak ke Jakarta untuk menjadi penjual es puter dan juga tukang bangunan seperti senior-senior mereka.

Yang sering terjadi, para pemuda ini jika pulang ke kampung saat menjelang Lebaran, bukannya menjadi teladan yang baik, namun sebagian dari mereka malah mengajarkan kepada para pengangguran di kampung untuk nongkrong dan main kartu.

Bahkan sebagian lagi tidak punya rasa malu melakukan aksi mabuk-mabukan semalaman di dekat masjid. Botol-botol miras bergelimpangan saat pagi harinya. Kegiatan ini sudah saya lihat sejak saya kecil.

Untungnya, kata orang kampung saya agak  berbeda dengan remaja kebanyakan. Sejak SD saya memang merasa  tidak nyaman berkelompok dengan mereka. Saya lebih suka angon wedhus (memelihara kambing) di ladang, atau ikut orangtua menggarap tanam-tanaman ladang serta mengurusi kebun kelapa serta menjualnya hasilnya di pasar kota. Bersama kakak-kakak serta Bapak, biasanya sehabis subuh kami bersama berangkat ke pasar kota untuk mengantar kelapa-kelapa dan hasil ladang setiap harinya mengggunakan sepeda ontel tua. Keluarga kami adalah petani kelapa.

Botol Miras Bergelimpangan di Dekat Masjid

Saya tidak tahu. Apakah mungkin ada kesengajaan dari orangtua kami untuk menghabiskan waktu-waktu bersama mereka agar tidak bertemu dengan teman-teman yang suka nongkrong di dekat masjid kampung tersebut.

Saya sendiri tahu adanya botol miras bergelimpangan di dekat masjid, juga karena aktifitas orangtua yang kebanyakan di masjid, maka mau tidak mau saya juga terbawa kebiasaannya dengan mengikutinya ke masjid setiap masuk waktu shalat.

Kebetulan kebun-kebun milik keluarga berada di sekitaran masjid sehingga saat panen kelapa dan istirahat dan shalat menuju masjid, selalu melewati tumpukan botol-botol yang sudah kosong isinya itu.

Saya tidak ingat, apakah orangtua memasukkan saya di SMP Muhammadiyah 1 setelah lulus SD, juga karena adanya rasa khawatir orangtua akan bertemunya saya dengan anak-anak kampung  tersebut.

Yang jelas setelah lulus SD, saya dimasukkan ke Sekolah Muhammadiyah favorit di Klaten, dan saya tidak berani bertanya. Saat saya kecil, memang masih banyak yang meyakini bahwa sekolah tinggi juga susah mencari pekerjaan.

Oleh karena itu,  kata mereka, daripada percuma sekolah biasanya para tetangga memilih "menyekolahkan" anak-anak mereka ke Jakarta sebagai penjual es puter dan tukang bangunan.  Jarang yang sekolah tinggi. Kalaupun ada, kebanyakan hanya sampai SMP. Kalau beruntung, ada yang sekolah di SMA/STM/SMEA.

Dari ratusan keluarga, hanya beberapa yang mau menyekolahkan anaknya hingga ke Perguruan Tinggi. Salahsatunya keluarga saya.  Setelah SMP Muhammadiyah 1 Klaten, saya pun akhirnya meneruskan "ngaji" ke SMA Muhammadiyah 1 Klaten.

Di sekolah ini, selain menjadi Ketua OSIS, saya juga terpilih sebagai Ketua Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Klaten dalam Musyda (Musyawarah Daerah) IPM Klaten. Sayangnya, saya harus meninggalkan kota kelahiran saya ini, karena harus meneruskan kuliah dan bekerja Surabaya-Jakarta lebih dari 20 tahun lamanya sampai saat ini. 

Tahun 2006, saya bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah dan belasan tokoh lain ikut membidani lahirnya pengajian terbatas berlokasi di samping rumah dinas Gubernur DKI, yang hanya diikuti oleh kalangan wartawan, artis, pengusaha, serta profesi unik lainnya misalnya pelawak, budayawan, dan lain sebagainya. Dari komunitas ini, tanpa diduga, saya akhirnya justru lebih banyak bertemu tokoh-tokoh yang ngefans PKS. Diam-diam, sebagian artis-artis yang ikut pengajian ternyata banyak ngefans ke PKS. Hebatnya, mereka tidak terganggu oleh propaganda anti PKS yang tetap ada di mana-mana. Termasuk dari saya.

Akan tetapi jika melihat kehidupan para artis yang ngefans ke PKS, saya akhirnya jadi penasaran, kenapa mereka mau saja aktif dan membantu aktifitas parpol itu, bahkan mau menjadi ikon beberapa programnya? Di beberapa televisi, saat itu memang banyak iklan sosial dari PKS, dan sebagian artis yang nongol di TV tersebut adalah kawan-kawan saya di pengajian. Meski begitu, saya tetap saja membenci.

Rancu, Sok Kerja dan Terlalu Percaya Diri

Partai ini menurut saya, banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang rancu, sok kerja, dan terlalu percaya diri. Boleh saya bilang, overacting, Bagaimana tidak? Di mana-mana mereka sok bangga mengenakan atribut PKS. Shalat pakai kaos PKS. Orang ngaji, kaos PKS. Orang gotong-royong, kaos PKS.

Bahkan sepakbola juga pakai kaos PKS. Anehnya, para PKS lovers itu tampaknya tidak risih mengenakan kaosnya meski tidak dalam masa kampanye. Kondisi itu jelas berbeda jauh misalnya, ketika saya tanyakan kepada warga yang katanya hanya mengenakan kaos pemberian Partai lain, sekedar kalau hanya mendekati kampanye saja. Kondisi itu jelas menambah kebencian saja. Saya pikir, PKS lovers ini terlalu fanatik.

"Sialnya", beberapa kali kegiatan sosial yang saya lakukan di pinggiran Jakarta serta beberapa kota kecil di daerah bersama komunitas, malah saya selalu bertemu dengan relawan PKS di lokasi. Setiap penyerahan bantuan, di sana banyak relawan PKS bersama warga.

Pemandangan ini jelas menjengkelkan. Karena saya pikir kegiatan sosial ini jadi mirip ditunggangi Parpol, maka kemudian saya mencoba mencari lokasi lain yang tidak ada relawan PKS-nya. Sayang, tak pernah menemukan. Dalam hati saya, kenapa semua tujuan kegiatan sosial saya, selalu bertemu dengan relawan PKS?

Bahkan para artis yang ikut kegiatan sosial juga heran, kenapa lokasi-lokasi yang saya sendiri memilihnya--dipilih oleh pembenci PKS, ternyata akhirnya juga di sanalah berkumpul para relawan PKS. Saya menyerah. Saya menyerah.  Pokoknya menyerahkan bantuan ya diserahkan saja. Gak peduli mau ada PKS atau tidak. Saya akui, nyaris saya tak bisa menghindari dari para relawan PKS yang bangga dengan kaos lengan panjangnya itu.

Benci Jadi Cinta

Tahun 2007, ketika banjir besar melanda Jakarta, titik kebencian saya kepada PKS mencapai titik kulminasinya. Maaf, lebih tepatnya, mulai surut. Saat itu, rumah keluarga kami di Jakarta Barat tenggelam. Lagi-lagi, relawan PKS memenuhi sudut perumahan. Perahu karet, perahu darurat, baju bekas dan bantuan makanan, banyak disuplai oleh mereka.

Yang membedakan dari yang lain, relawan-relawan ini begitu santun dan cepat dalam mengambil tindakan, dan tahu harus melakukan apa ketika melihat korban bergelantungan di teras-teras rumah, ketika korban ingin menyelamatkan harta bendanya. Persis apa yang dilakukan petugas penyelamat di film Titanic, para relawan itu berteriak-teriak ke semua rumah, memastikan apakah ada korban yang perlu ditolong...

Ajakan itu, malah membalik kebencian saya menjadi cinta. Betapa hebatnya...


*) Mustofa B. Nahrawardaya, saat ini menjadi Caleg PKS DPR RI Jateng V


Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

"Potret Buram PKS"

Oleh: Nandang Burhanudin, Lc.


Tadi malam saat perjalanan pulang dari Jakarta, saya mendengar iklan kamera foto yang sudah bisa menggunakan intruksi suara. Teknologi yang terinspirasi dari suara tukang parkir. "Kanan dikit ... ya geser ke kiri .. munduur habiis ... stop!" Sedang di teknologi foto sudah ditambah dengan "Ciiiis!"

Teknologi ini pula yang sekarang digunakan untuk memotret PKS. Teknologi sensor suara yang tentu sudah disesuaikan dengan keinginan si pemilik suara. Yaitu memotret momentum apapun tentang PKS. Namun khusus di momen-momen buram. Momen kasus tuduhan korupsi sapi misalnya? Potret PKS sangat babak belur. Wajah-wajah kisut-kusut mewarnai press comperence pengurus PKS. Tujuh hari tujuh malam, headline berita seputar PKS. Potret korupsi sapi lebih besar dipanding potret korupsi lainnya yang lebih besar.

Usai potret LHI, sensor suara memotret segmen paling sensitif. Yaitu caleg Noni PKS di daerah minoritas Muslim dan caleg terindikasi Syi'ah juga paling banyak diblow up. Nah kini kamera otomatis itu kembali membidik potret kasus-kasus yang bersumber dari alam antah berantah; Praktik Cabul Caleg PKS terhadap anak SMP. Isu untuk menutupi potret seputar penjualan Gunung Ciremai, gagal membidik AHER Gubernur Jabar dari PKS.

Dahsyat bukan? Menjelang Pemilu 2014, juru-juru foto yang tugasnya mengambil momen-momen buram PKS disebar. Bahkan di FP saya, ada yang mengibaratkan sosok-sosok yang sibuk mencari-cari kesalahan bagaikan seekor anjing peliharaan yang mencari-cari bau busuk, sedangkan tuannya tersenyum sambil goyang-goyang kaki.

Lucunya, yang paling kencang mencari-cari kesalahn PKS bukan dari JIL-Non Islam- tapi dari kalangan gerakan Islam yang mengklaim paling syariah dan paling dekat dengan Sunnah Nabi. Entahlah syariah dan Sunnah Nabi yang mana yang dijalankan!


Hanya saja, para juru foto dan sang tuan lupa bahwa PKS adalah partai berbasis ideologis. Semakin ditekan dan dituduh dengan tuduhan yang mengada-ada, maka imunitas kader terhadap PKS semakin kebal. Mereka tahu PKS tidak sempurna. Sadar bahwa PKS ada buramnya. Namun buramnya PKS masih bisa dibersihkan. Ketidaksempuranaan PKS masih bisa diperbaiki. Caranya dengan memenangkan PKS di 2014. Selanjutnya setiap kader harus siap menjadi pengawas setiap aleg dan birokrat PKS, agar potret yang dihasilkan selalu, "Ciiiis!"

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Ade Eva Novanti, S.E "Wujudkan Pemberdayaan Ekonomi Umat"


Sejak kuliah di  Fakultas Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Djati (Unswagati) Cirebon, Ade Eva Novanti  cukup aktif dalam berorganisasi.. Ia dipercaya rekan-rekannya untuk memegang amanah sebagai ketua jurusan mahasiswa manajemen dan aktif di lembaga eksekutif mahasiswa Unswagati. Untuk mengasah kesadarannya sebagai muslimah. Ade Eva bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Masjid Nurul  Ilmi (IMMNI). Di organisasi itu, Ade Eva dipercaya sebagai Ketua Keputrian. 

Jelang rampung kuliah, Ade Eva sempat menjadi asisten dosen ekonomi.  Tidak hanya itu, Ade juga aktif mengikuti kursus-kursus seperti Komputer Akuntansi di Semarang , Bahasa Inggris di WIT dan pelatihan pengelolaan BMT. Selepas kuliah, Ade Eva konsentrasi di bidang pemberdayaan eknomi umat melalui Baitul Mal Watamwil (BMT). Berturut-turut sebagai accounting di BMT Salamah Perumnas Cirebon dan BMT Al Islah Sumber. Ia juga ikut mengembangkan usaha katering. Lewat tangan dinginnya, Galunggung Katering, perusahan keluarga  bisa berkembang pesat. Ade juga tidak lupa dengan tugas dakwahnya, sehingga bergabung dengan lembaga persaudaraan muslimah (Salimah) membina majelis taklim ibu-ibu. dan saat ini, ade dipercaya sebagai Sekretaris PD Salimah Kota Cirebon.


Sejauh ini, lanjut Ade,  keberpihakan terhadap ekonomi sektor riil masih lemah, Padahal dikala krisis justru sektor riil lah yang masih bertahan. Didukung suaminya Dadan Perdana, S.E, Ade Eva kini membuat BMT Al Fath dan duduk sebagai manager BMT. Kehadiran BMT, lanjut Ade, sebagai upaya untuk mendorong ekonomi sektor riil.  Jika, Allah menghendaki sebagai anggota  dewan, Ade Eva akan melakukan pemberdayaan ekonomi umat.

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Agung Novedi, "Bekerja, Berkorban untuk Mendapat Ridho Allah"

Selasa, Maret 04, 2014

Agung Novedi  adalah calon anggota dewan (CAD) DPRD Kota Cirebon dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) nomor urut 1 untuk Daerah Pemilihan I Harjamukti.

Dilahirkan di Cirebon 7 Nopember 1962, alumni SMA Negeri I Cirebon ini, bukan sosok yang asing bagi warga Harjamukti. Ketika reformasi dan munculnya era partai tahun 1999, Agung ikut terlibat mendeklarasikan Partai Keadilan yang kini berganti nama Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Agung diamanahi sebagai Ketua DPC PK Kecamatan Harjamukti. Saat ini, Agung menjabat sebagai Sekretaris DPD PKS Kota Cirebon.

Selain menjabat sebagai Sekretaris PKS, anak salah seorang veteran di Kota Cirebon ini, juga aktif  sebagai Pembina petani dan nelayan dalam wadah PPNSI dan pada saat bersamaan juga menjabat Ketua Gerakan Cirebon Bermartabat.

Mantan rocker era 80 an ini  sudah bertekad mewakafkan hidupnya untuk kepentingan dakwah Islam. Hingga kini, pria yang akrab disapa Abi oleh warga Kampung Larangan ini disibukan dengan mengisi acara-acara pengajian di majelis talim, DKM, membina pelajar dan mahasiswa, pegawai kantoran, sampai dengan anak SD tidak luput mendapat perhatiannya.

Agung tidak hanya mengajak kebaikan kepada orang, tetapi juga ia praktekan dalam diri dan keluarganya. Salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan agama yang baik kepada anak-anaknya. Anak pertamanya, Zaskia Aulia Fadillah (Hafidzah/Penghafal Alquran 30 Juz)  kini tercatat sebagai mahasiswi LIPIA Jakarta (Program Beasiswa). Anak Keduanya, Ammar Yasir Fadillah yang kini mondok di Pesantren Sulaimaniyah (Beasiswa full ke Turki untuk Program Tahfidz Qur'an, melalui United Islamic Cultural Center of Indonesia.) dan menghapal 15 juz Alquran, sementara si bungsu Mumtaz masih kelas IV SDIT Muhammadiyah (menghapal Juz 30).

Sosok Agung begitu tegas, disiplin dan berani mengambil resiko selagi untuk menolong sesama dan menegakan kebenaran. Aksi heroiknya yang menjadi relawan Aceh (satu hari setelah Tsunami), membuatnya dinobatkan sebagai salah satu tokoh kemanusiaan dari 17 tokoh versi Koran Radar Cirebon, hingga akhirnya ia diminta  PKS untuk memperluas dakwahnya hingga parlemen.

Menurut Agung, parlemen adalah satu mimbar untuk membuat kebaikan itu lebih massif lagi. Pria bersahaja ini mempunyai motto dalam hidupnya “Bekerja, Berkorban untuk Mendapat Ridho Allah”

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Jangan Buta Politik


Bapak, Ibu, Om dan tante serta adik-adik yang punya hak pilih, pemilihan umum (Pemilu) sebentar lagi akan dilaksanakan pada 9 April 2014. Perlu diketahui ibu dan bapak, biaya hidup, kesehatan dan pendidikan, harga elpiji, harga sembako, harga BBM, dll yang menyangkut hajat hidup secara umum,  kebijakannya bergantung pada keputusan politik melalui pembahasan di legislatif.

Anda semua mempunyai hak untuk menentukan dan memilih pemimpin yang adil, calon-calon wakil rakyat yang pro rakyat, menolak kenaikan BBM, dekat dan peduli dengan nasib anda. Jangan sampai kita buta politik, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam proses politik (pemilu). 


MARI JANGAN GOLPUT dan JANGAN SALAH PILIH WAKIL ANDA

Nah,untuk lebih mengenal siapa-siapa wakil-wakil calon legislatif dari PKS, maka mulai hari ini kami akan mengulas profil tiap-tiap caleg PKS DPRD Kota Cirebon.

Don't miss it.



Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Djakaria Sebut Kang Aher Bapak Pendidikan Jawa Barat

Rabu, Januari 08, 2014

CIREBON - Rektor Unswagati Cirebon DR H Djakaria Machmud SE SH MSi mengusulkan Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan sebagai Bapak Pendidikan Jawa Barat.
Pernyataan pria yang akrab disapa Mr Djack dalam Yudisium Fakultas Pertanian di Hotel Zamrud, kemarin, bukan tanpa alasan.

Djakaria menjelaskan, Kang Aher, begitu Gubernur Jawa Barat disapa, layak disebut sebagai Bapak Pendidikan Jabar karena memiliki langkah jelas dalam membangun dunia pendidikan di Jawa Barat.

Mantan Walikota Tangerang ini mencontohkan, Kang Aher telah memberikan beasiswa satu siklus kepada mahasiswa, dan mendirikan simpul-simpul perguruan tinggi di empat titik strategis di luar kota Bandung.

“Kepedulian terhadap bidang pendidikan yang dilakukan Kang Aher sebagai Gubernur Jawa Barat dalam memajukan dunia pendidikan di Jawa Barat sangat terasa. Itu sebagai upaya meingkatkan angka partisipasi kasar dengan berbagai programnya,” papar Djakaria.
Menurutnya, langkah yang dilakukan gubernur perlu mendapat apresiasi.
Unswagati, lanjut Djakaria, mengusulkan serta mendukung  Aher sebagai bapak pembangunan pendidikan Jawa Barat.

“Pantas jika kami usulkan Aher sebagai bapak pendidikan Jabar dengan langkah dan programnya memajukan pendidikan di Jabar,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Unswagati, Dr Ir I Ketut Sukananta MP menyatakan, pada wisuda yang akan digelar 16 sampai 17 Januari nanti, Fakultas Pertanian  akan mewisuda 58 orang yang terdiri dari Program Studi Agroteknologi sebanyak 28 orang, dan Program Agribisnis 30 orang.

“Dari 52 wisudawan, 42 orang adalah  penerima beasiswa satu siklus dari Gubernur Jawa Barat dari jumlah keseluruhan 90 orang penerima beasiswa satu siklus pada tahun akademik 2009/2010,” ungkapnya.

Ditambahkannya, Fakultas Pertanian sedang menyusun payung hukum penelitian tingkat fakultas, mempersiapkan kurikulum berbasis kompetensi dan menyusun metode pengajaran berbasis student centered leaning sebagai persiapan menghadapi pemberlakuan ASEAN Economic Community, serta sebagai upaya dukungan terhadap pengisian akreditasi institusi perguruan tinggi sebagai amanat undang-undang nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. (mas)

sumber: Harian Rakyat Cirebon.

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Menghadirkan Allah Dalam Kemerdekaan Indonesia.

Rabu, Agustus 28, 2013

Oleh: Anwar Yasin 
(Anggota Legislatif DPRD Prov. Jawa Barat, Dapil Ko/Kab. Cirebon & Indramayu)


Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. (pembukaan UUD 1945 alenia ke tiga.)

Makna yang hilang.

Memaknai kemerdekaan akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang mewah karena sulit didapat, entah karena sulit untuk diupayakan atau memang karena kita semua merasa tidak penting lagi memaknai apa arti dari kemerdekaan bangsa kita.

Kemerdekaan sering kita temukan di jalan–jalan, dimana sekelompok pemuda menawarkan air kemasan untuk dibeli dengan tujuan mencari dana kegiatan tujuh belas Agustus-an, atau bahkan lebih tragis lagi hanya sekedar meminta saja.

Acara panggung sering berakhir ricuh karena pentas seni dan atau panggung hiburan selau disamakan dengan tampilnya orkes dangdut tunggal dan penonton yang mabuk dengan Alkohol, sepak bola antar kampung tidak jarang berakhir dengan tawuran antara masing-masing pendukung kampung, sebuah hasil yang jauh dari tujuan semula yang mulia, membangun persahabat dan sportifitas antara sesama anak bangsa.

Penulis tidak anti dengan perayaan kemerdekaan bangsa ini, tapi perlu berapa lama lagihkah bangsa ini terjebak selebrasi dengan miskin makna, hura-hura yang tidak jarang berakhir dengan huru-hara, padahal kemerdekaan bangsa ini dipertahankan oleh Bung Tomo dengan ucapan “Allahu Akbar” .

Mensyukuri kemerdekaan.

Kemerdekaan bangsa ini tidak hanya diraih oleh perjuangan senjata dan diplomasi semata tapi lebih jauh bahwa semua ini hadir dikarenakan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu semua pencapaian berupa kebebasan dalam berbangsa harus menghadirkan syukur atas rahmat Allah  SWT.

Rasa syukur ini yang mulai pudar dalam setiap gerak kita, entah dalam skala bernegara sampai kehidupan kita sehari-hari. Di satu sisi syukur membuahkan qona’ah, sebuah sikap yang membuat kita cukup atas apa yang Allah Karuniakan, rasa kecukupan inilah yang menahan kita untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, korupsi misalnya.

Rasa Syukur di sisi lain menimbulkan keinginan untuk memanfaatkan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan peruntukannya, atau dalam kontkes kemerdekaan memanfaatkannya sesuai dengan amanat Allah SWT.

Setidaknya ada tiga sebab manusia kehilangan rasa syukur kepada Allah SWT, pertama: berfokus pada apa yang diinginkan bukan apa yang dimiliki, kedua: merasa orang lain memiliki karunia yang lebih banyak. Ketiga: merasa pencapaian yang didapat hasil dari kerja sendiri.

Untuk point pertama dan kedua masih ada pengecualian ketika ditempatkan dalam posisi usaha agar menjadi lebih baik maka itu dibolehkan walau tetap dalam  batas-batas tertentu. Namun dalam point ketiga maka itulah sesungguhnya sebab kehilangan rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Ketika kita memonopoli kesuksesan atas pencapaian kita karena kerja keras pribadi semata maka disanalah awal kerusakan baik itu secara individu ataupun dalam lingkup negara. Karena pada saat yang bersamaan kita akan menafikan setiap bantuan orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung. Lebih jauh lagi memonopoli kesuksesan atas pencapaian sukses karena kerja keras pribadi semata akan menghasilkan sebuah kesombongan.

Bila kita sadari bahwa setiap kesempatan yang kita miliki saat ini dihasilkan oleh setiap tetes darah pejuang, maka tentunya hasil karya kita akan jauh berkualitas dari pada yang menganggap bahwa kemerdekaan negara ini sekedar kejadian kebetulan saja.

Maka pada akhirnya, mensyukuri kemerdekaan adalah memahami betul bahwa kemerdekaan bangsa ini adalah sebuah amanah yang Allah SWT berikan kepada kita rakyat Indonesia yang kelak akan Allah tagih pertanggung jawabannya, dan pada saat yang bersamaan menyadari bahwa  kita berhutang pada setiap tetes darah para pejuang bangsa ini atas semua pemcapaian yang kita raih.

Dengan mensyukuri kemerdekaan seperti diatas semoga Allah menambahkan nikmat kepada bangsa ini dan menjauhkan adzab yang pedih.

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Berita

Motivasi

 

© Copyright PKS Kota Cirebon 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by www.pkskotacirebon.org.