News Update :

Terpopuler

#AYTKTM

#AYTKTM

Taujihat

Opini

Muhamad, "Cinta, Kerja dan Harmoni"

Rabu, Maret 12, 2014


Muhamad, caleg PKS nomor urut 6 dari Dapil 1 Harjamukti ini sangat dikenal oleh warga, khususnya warga Dukuh Semar Kelurahan Kecapi. Pria berkecamata ini sudah aktif di PKS sejak tahun 1998, usai sekolah di  bangku SMK Kota Cirebon. Sempat bekerja di bengkel sebuah dealer, pria kelahiran Cirebon, 36 tahun yang lalu ini dikenal sebagai sosok yang peduli warga dan jago lobi. Sehingga, lewat  kemampuan lobinya sering berhasil mengadvokasi warga yang kurang mampu baik di bidang kesehatan dan pendidikan. Bahkan, asisten anggota DPRD dari PKS ini sering mengadakan sembako murah dan mendatangkan bantuan buat warga  dari hasil lobi-lobinya.


Muhamad juga dikenal dekat dengan anak-anak muda, dan sering mengadakan kegiatan yang positif bagi anak-anak muda. Karena sikap supel dan kepemimpinannya yang menonjol dan loman terhadap bawahan, Muhamad kini dipercaya untuk memimpin DPC PKS Kecamatan Harjamukti. Sebelumnya, Muhamad  dipercaya sebagai Ketua DPC Pekalipan.  Jika terpilih nanti, bapak tiga anak yang menggeluti bisnis hantaran pengantin ini, bertekad akan menjadikan kebijakan parlemen yang pro rakyat dan lebih keras lagi dalam memperjuangkan hak-hak rakyat. 

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Nuni Agustina, A.Md, "Karena Wanita Memang Istimewa"

Selasa, Maret 11, 2014


Nuni Agustina A.Md adalah Caleg PKS no urut 5 dari dapil 1 Harjamukti. Ia merupakan sosok caleg PKS yang aktif dalam beroganisasi. Semasa kuliah di STT Telkom Bandung, perempuan yang lahir di Cirebon 30 tahun yang lalu ini aktif di berbagai oraganiasi kemahasiswaan, seperti Lembaga Dakwah Kampus, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM STTTelkom dengan posisi sebagai bendahara organisasi). Sempat bekerja di MQ Radio milik Aa Gym, dan  PT Industri Telekomunikasi Indonesia Bandung, perempuan berkerudung ini akhirnya lebih memilih untuk kembali mengabdi di kampung halamannya di Jalan Mayor Sastra Atmaja Kecamatan Lemahwungkuk. Di kampung halamannya, ibu dua anak ini terus aktif di masyarakat.


Di tengah kesibukannya sebagai owner Nunia Craft dan Handmade Trainer, Nuni terus membina masyarakat dengan aktif sebagai pendamping kader posyandu (PKP) Kec Lemahwungkuk.. Bahkan, jiwa bisnisnya dia salurkan dengan ikut terjun dalam Komunitas Ibu-Ibu Doyan Bisnis (IIDB) se-wilayah 3 Cirebon. Dengan segudang aktivitasnya  dalam membina ibu-ibu, jika terpilih sebagai anggota dewan, Nuni bertekad akan mendorong anggaran yang berpihak kepada pemberdayaan kaum hawa agar lebih mandiri serta bisa membantu ketahanan keluarga. Karena menurut  istri dari Reza Irawan Awali, ketahan keluarga merupakan inti dari perbaikan masyarakat. 

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Syafi'i, " Menebar Kebaikan, Menjadi Agen Perubahan "

Senin, Maret 10, 2014


Syafi'i Lc, adalah caleg PKS Dapil 1 no urut 4 untuk DPRD Kota Cirebon. Pria 49 tahun ini adalah pribadi yang sederhana dan murah senyum, hal inilah yang membuat beliau mudah diterima masyarakat ditempat tinggalnya di Kampung Balong Kelurahan Kecapi. 

Jebolan LIPIA Jakarta yang menguasai bahasa Arab dan Inggris ini  dikenal sosok yang bersahaja. Di tengah kesibukannya menekuni bisnis kayu kiloan, pria beranak 4 ini, aktif membina masyarakat. Sehingga, di  rumahnya ramai dengan kajian ilmu baik majelis ilmu yang dihuni anak muda, majelis taklim ibu-ibu maupun anak-anak yang belajar mengaji. Pria pembelajar cepat ini juga aktif di berbagai oraganisasi seperti IKADI, Arrisalah dan  korps mubaligh. Hal inilah yang mendorong PKS mengamanahi beliau untuk menjadi caleg PKS dari dapil 1 Harjamukti.

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Fatikhul Muhadi, S.Ag, "Mencetak Rakyat Pinter, Bener, Berani"

Kamis, Maret 06, 2014


Fatikhul Muhadi, S.Ag adalah Caleg DPRD Kota Cirebon dari Dapil Harjamukti, no urut 3. Beliau sangat familiar di kalangan aktivis dakwah, kiai dan pondok pesantren. Maklum, kendati masih usia 40 tahun, ustadz Fatih begitu disapa, memiliki pengetahuan agama yang mumpuni karena lahir di lingkungan keluarga yang taat beragama dan besar dalam tradisi pesantren. Alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan Perguruan Tinggi Hasyim Asari ini dikenal sosok yang tegas, disiplin dan humoris.

Pria berkacamata ini, sangat konsen dalam dunia dakwah dan pendidikan. Sebagai bentuk konsistensi di bidang pendidikan, Ustadz Fatih ikut terlibat dalam membesarkan SDIT Sabilul Huda. Kini, selain aktif berwirausaha, ustadz Fatih yang tinggal di Argasunya tetap membina masyarakat sekitar dan mengisi majelis taklim, memberikan bimbingan mental bagi mahasiswa, pengurus masjid, karyawan perkantoran dan membuat pengajian bagi para pengusaha muslim. Bahkan, Ketua Bidang Pendidikan dan Dakwah Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kota Cirebon ini, menciptakan sebuah metode cepat membaca Al Qur’an, yang di kenal sebagai metode Fathah. Melihat kiprah beliau dalam dunia pendidikan serta dakwah yang sangat luas, PKS tanpa ragu lagi untuk mencalonkan pria yang memiliki motto “Mencetak Rakyat Pinter, Bener, Berani” itu untuk menjadi calon anggota legislatif nomor urut 3 di Dapil Kecamatan Harjamukti.

Berikut adalah sekilas pengalaman organisasi beliau;
1. Kepala SDIT Sabilul Huda
2. Kabid PD IKADI Kota Cirebon
3. Ketua Yayasan Sabilul Faros
4. Pengasuh Majelis Ta’lim Ulumul Qur’an
5. Dosen IAIN Syakh Nur Jati Cirebon
6. Pengurus MUI Kota Cirebon

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Jangan Pilih PKS !

Rabu, Maret 05, 2014

Oleh: Mustofa B. Nahrawardaya


AJAKAN ini sudah saya dengar dari tetangga, kerabat, teman kerja, hingga tukang ojek, sejak 2004 silam. Alhasil, saya pun akhirnya menjadi orang yang paling benci dengan PKS (Partai Keadilan Sejahtera).

Pada tahun itu, kesibukan kerja saya hanya berkutat antara Surabaya-Jakarta, dan sesekali ke Klaten -- menengok orangtua dan tiga kakak saya yang memang ada di kota tanah kelahiran saya itu.

Apalagi kalau sedang di Klaten, maka ajakan menghindari Partai yang logonya didominasi warna putih, hitam dan kuning ini semakin kencang. Bahkan nyaris tidak saya lihat bendera PKS selama saya di pedalaman Klaten.

Sepanjang perjalanan dan perkampungan, pada setiap menjelang Pemilu, yang banyak saya lihat adalah bendera berwarna merah, khas dengan kepala bantengnya.

Ajakan semacam itu, bertambah santer ketika di pojok-pojok kampung saya banyak anak-anak muda pengangguran nongkrong sambil main kartu.

Merekalah  penyambung ajakan yang paling dahsyat yang menyebar luaskan ajakan tersebut kepada anak-anak muda lainnya. Anak muda yang tidak tahu menahu seperti saya, banyak yang ikut-ikutan. Siapa anak-anak muda ini?

Anak-anak muda ini adalah lulusan SD hingga SMA yang tidak bisa bekerja, dan menunggu "kode" dari saudara-saudaranya di Jakarta yang rata-rata bekerja secara turun temurun sebagai penjual es puter dan tukang bangunan.

Gerombolan ini sudah ada sejak saya kecil. Biasanya, setelah Idul Fitri atau setelah Lebaran, mereka akan diajak ke Jakarta untuk menjadi penjual es puter dan juga tukang bangunan seperti senior-senior mereka.

Yang sering terjadi, para pemuda ini jika pulang ke kampung saat menjelang Lebaran, bukannya menjadi teladan yang baik, namun sebagian dari mereka malah mengajarkan kepada para pengangguran di kampung untuk nongkrong dan main kartu.

Bahkan sebagian lagi tidak punya rasa malu melakukan aksi mabuk-mabukan semalaman di dekat masjid. Botol-botol miras bergelimpangan saat pagi harinya. Kegiatan ini sudah saya lihat sejak saya kecil.

Untungnya, kata orang kampung saya agak  berbeda dengan remaja kebanyakan. Sejak SD saya memang merasa  tidak nyaman berkelompok dengan mereka. Saya lebih suka angon wedhus (memelihara kambing) di ladang, atau ikut orangtua menggarap tanam-tanaman ladang serta mengurusi kebun kelapa serta menjualnya hasilnya di pasar kota. Bersama kakak-kakak serta Bapak, biasanya sehabis subuh kami bersama berangkat ke pasar kota untuk mengantar kelapa-kelapa dan hasil ladang setiap harinya mengggunakan sepeda ontel tua. Keluarga kami adalah petani kelapa.

Botol Miras Bergelimpangan di Dekat Masjid

Saya tidak tahu. Apakah mungkin ada kesengajaan dari orangtua kami untuk menghabiskan waktu-waktu bersama mereka agar tidak bertemu dengan teman-teman yang suka nongkrong di dekat masjid kampung tersebut.

Saya sendiri tahu adanya botol miras bergelimpangan di dekat masjid, juga karena aktifitas orangtua yang kebanyakan di masjid, maka mau tidak mau saya juga terbawa kebiasaannya dengan mengikutinya ke masjid setiap masuk waktu shalat.

Kebetulan kebun-kebun milik keluarga berada di sekitaran masjid sehingga saat panen kelapa dan istirahat dan shalat menuju masjid, selalu melewati tumpukan botol-botol yang sudah kosong isinya itu.

Saya tidak ingat, apakah orangtua memasukkan saya di SMP Muhammadiyah 1 setelah lulus SD, juga karena adanya rasa khawatir orangtua akan bertemunya saya dengan anak-anak kampung  tersebut.

Yang jelas setelah lulus SD, saya dimasukkan ke Sekolah Muhammadiyah favorit di Klaten, dan saya tidak berani bertanya. Saat saya kecil, memang masih banyak yang meyakini bahwa sekolah tinggi juga susah mencari pekerjaan.

Oleh karena itu,  kata mereka, daripada percuma sekolah biasanya para tetangga memilih "menyekolahkan" anak-anak mereka ke Jakarta sebagai penjual es puter dan tukang bangunan.  Jarang yang sekolah tinggi. Kalaupun ada, kebanyakan hanya sampai SMP. Kalau beruntung, ada yang sekolah di SMA/STM/SMEA.

Dari ratusan keluarga, hanya beberapa yang mau menyekolahkan anaknya hingga ke Perguruan Tinggi. Salahsatunya keluarga saya.  Setelah SMP Muhammadiyah 1 Klaten, saya pun akhirnya meneruskan "ngaji" ke SMA Muhammadiyah 1 Klaten.

Di sekolah ini, selain menjadi Ketua OSIS, saya juga terpilih sebagai Ketua Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Klaten dalam Musyda (Musyawarah Daerah) IPM Klaten. Sayangnya, saya harus meninggalkan kota kelahiran saya ini, karena harus meneruskan kuliah dan bekerja Surabaya-Jakarta lebih dari 20 tahun lamanya sampai saat ini. 

Tahun 2006, saya bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah dan belasan tokoh lain ikut membidani lahirnya pengajian terbatas berlokasi di samping rumah dinas Gubernur DKI, yang hanya diikuti oleh kalangan wartawan, artis, pengusaha, serta profesi unik lainnya misalnya pelawak, budayawan, dan lain sebagainya. Dari komunitas ini, tanpa diduga, saya akhirnya justru lebih banyak bertemu tokoh-tokoh yang ngefans PKS. Diam-diam, sebagian artis-artis yang ikut pengajian ternyata banyak ngefans ke PKS. Hebatnya, mereka tidak terganggu oleh propaganda anti PKS yang tetap ada di mana-mana. Termasuk dari saya.

Akan tetapi jika melihat kehidupan para artis yang ngefans ke PKS, saya akhirnya jadi penasaran, kenapa mereka mau saja aktif dan membantu aktifitas parpol itu, bahkan mau menjadi ikon beberapa programnya? Di beberapa televisi, saat itu memang banyak iklan sosial dari PKS, dan sebagian artis yang nongol di TV tersebut adalah kawan-kawan saya di pengajian. Meski begitu, saya tetap saja membenci.

Rancu, Sok Kerja dan Terlalu Percaya Diri

Partai ini menurut saya, banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang rancu, sok kerja, dan terlalu percaya diri. Boleh saya bilang, overacting, Bagaimana tidak? Di mana-mana mereka sok bangga mengenakan atribut PKS. Shalat pakai kaos PKS. Orang ngaji, kaos PKS. Orang gotong-royong, kaos PKS.

Bahkan sepakbola juga pakai kaos PKS. Anehnya, para PKS lovers itu tampaknya tidak risih mengenakan kaosnya meski tidak dalam masa kampanye. Kondisi itu jelas berbeda jauh misalnya, ketika saya tanyakan kepada warga yang katanya hanya mengenakan kaos pemberian Partai lain, sekedar kalau hanya mendekati kampanye saja. Kondisi itu jelas menambah kebencian saja. Saya pikir, PKS lovers ini terlalu fanatik.

"Sialnya", beberapa kali kegiatan sosial yang saya lakukan di pinggiran Jakarta serta beberapa kota kecil di daerah bersama komunitas, malah saya selalu bertemu dengan relawan PKS di lokasi. Setiap penyerahan bantuan, di sana banyak relawan PKS bersama warga.

Pemandangan ini jelas menjengkelkan. Karena saya pikir kegiatan sosial ini jadi mirip ditunggangi Parpol, maka kemudian saya mencoba mencari lokasi lain yang tidak ada relawan PKS-nya. Sayang, tak pernah menemukan. Dalam hati saya, kenapa semua tujuan kegiatan sosial saya, selalu bertemu dengan relawan PKS?

Bahkan para artis yang ikut kegiatan sosial juga heran, kenapa lokasi-lokasi yang saya sendiri memilihnya--dipilih oleh pembenci PKS, ternyata akhirnya juga di sanalah berkumpul para relawan PKS. Saya menyerah. Saya menyerah.  Pokoknya menyerahkan bantuan ya diserahkan saja. Gak peduli mau ada PKS atau tidak. Saya akui, nyaris saya tak bisa menghindari dari para relawan PKS yang bangga dengan kaos lengan panjangnya itu.

Benci Jadi Cinta

Tahun 2007, ketika banjir besar melanda Jakarta, titik kebencian saya kepada PKS mencapai titik kulminasinya. Maaf, lebih tepatnya, mulai surut. Saat itu, rumah keluarga kami di Jakarta Barat tenggelam. Lagi-lagi, relawan PKS memenuhi sudut perumahan. Perahu karet, perahu darurat, baju bekas dan bantuan makanan, banyak disuplai oleh mereka.

Yang membedakan dari yang lain, relawan-relawan ini begitu santun dan cepat dalam mengambil tindakan, dan tahu harus melakukan apa ketika melihat korban bergelantungan di teras-teras rumah, ketika korban ingin menyelamatkan harta bendanya. Persis apa yang dilakukan petugas penyelamat di film Titanic, para relawan itu berteriak-teriak ke semua rumah, memastikan apakah ada korban yang perlu ditolong...

Ajakan itu, malah membalik kebencian saya menjadi cinta. Betapa hebatnya...


*) Mustofa B. Nahrawardaya, saat ini menjadi Caleg PKS DPR RI Jateng V


Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

"Potret Buram PKS"

Oleh: Nandang Burhanudin, Lc.


Tadi malam saat perjalanan pulang dari Jakarta, saya mendengar iklan kamera foto yang sudah bisa menggunakan intruksi suara. Teknologi yang terinspirasi dari suara tukang parkir. "Kanan dikit ... ya geser ke kiri .. munduur habiis ... stop!" Sedang di teknologi foto sudah ditambah dengan "Ciiiis!"

Teknologi ini pula yang sekarang digunakan untuk memotret PKS. Teknologi sensor suara yang tentu sudah disesuaikan dengan keinginan si pemilik suara. Yaitu memotret momentum apapun tentang PKS. Namun khusus di momen-momen buram. Momen kasus tuduhan korupsi sapi misalnya? Potret PKS sangat babak belur. Wajah-wajah kisut-kusut mewarnai press comperence pengurus PKS. Tujuh hari tujuh malam, headline berita seputar PKS. Potret korupsi sapi lebih besar dipanding potret korupsi lainnya yang lebih besar.

Usai potret LHI, sensor suara memotret segmen paling sensitif. Yaitu caleg Noni PKS di daerah minoritas Muslim dan caleg terindikasi Syi'ah juga paling banyak diblow up. Nah kini kamera otomatis itu kembali membidik potret kasus-kasus yang bersumber dari alam antah berantah; Praktik Cabul Caleg PKS terhadap anak SMP. Isu untuk menutupi potret seputar penjualan Gunung Ciremai, gagal membidik AHER Gubernur Jabar dari PKS.

Dahsyat bukan? Menjelang Pemilu 2014, juru-juru foto yang tugasnya mengambil momen-momen buram PKS disebar. Bahkan di FP saya, ada yang mengibaratkan sosok-sosok yang sibuk mencari-cari kesalahan bagaikan seekor anjing peliharaan yang mencari-cari bau busuk, sedangkan tuannya tersenyum sambil goyang-goyang kaki.

Lucunya, yang paling kencang mencari-cari kesalahn PKS bukan dari JIL-Non Islam- tapi dari kalangan gerakan Islam yang mengklaim paling syariah dan paling dekat dengan Sunnah Nabi. Entahlah syariah dan Sunnah Nabi yang mana yang dijalankan!


Hanya saja, para juru foto dan sang tuan lupa bahwa PKS adalah partai berbasis ideologis. Semakin ditekan dan dituduh dengan tuduhan yang mengada-ada, maka imunitas kader terhadap PKS semakin kebal. Mereka tahu PKS tidak sempurna. Sadar bahwa PKS ada buramnya. Namun buramnya PKS masih bisa dibersihkan. Ketidaksempuranaan PKS masih bisa diperbaiki. Caranya dengan memenangkan PKS di 2014. Selanjutnya setiap kader harus siap menjadi pengawas setiap aleg dan birokrat PKS, agar potret yang dihasilkan selalu, "Ciiiis!"

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Ade Eva Novanti, S.E "Wujudkan Pemberdayaan Ekonomi Umat"


Sejak kuliah di  Fakultas Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Djati (Unswagati) Cirebon, Ade Eva Novanti  cukup aktif dalam berorganisasi.. Ia dipercaya rekan-rekannya untuk memegang amanah sebagai ketua jurusan mahasiswa manajemen dan aktif di lembaga eksekutif mahasiswa Unswagati. Untuk mengasah kesadarannya sebagai muslimah. Ade Eva bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Masjid Nurul  Ilmi (IMMNI). Di organisasi itu, Ade Eva dipercaya sebagai Ketua Keputrian. 

Jelang rampung kuliah, Ade Eva sempat menjadi asisten dosen ekonomi.  Tidak hanya itu, Ade juga aktif mengikuti kursus-kursus seperti Komputer Akuntansi di Semarang , Bahasa Inggris di WIT dan pelatihan pengelolaan BMT. Selepas kuliah, Ade Eva konsentrasi di bidang pemberdayaan eknomi umat melalui Baitul Mal Watamwil (BMT). Berturut-turut sebagai accounting di BMT Salamah Perumnas Cirebon dan BMT Al Islah Sumber. Ia juga ikut mengembangkan usaha katering. Lewat tangan dinginnya, Galunggung Katering, perusahan keluarga  bisa berkembang pesat. Ade juga tidak lupa dengan tugas dakwahnya, sehingga bergabung dengan lembaga persaudaraan muslimah (Salimah) membina majelis taklim ibu-ibu. dan saat ini, ade dipercaya sebagai Sekretaris PD Salimah Kota Cirebon.


Sejauh ini, lanjut Ade,  keberpihakan terhadap ekonomi sektor riil masih lemah, Padahal dikala krisis justru sektor riil lah yang masih bertahan. Didukung suaminya Dadan Perdana, S.E, Ade Eva kini membuat BMT Al Fath dan duduk sebagai manager BMT. Kehadiran BMT, lanjut Ade, sebagai upaya untuk mendorong ekonomi sektor riil.  Jika, Allah menghendaki sebagai anggota  dewan, Ade Eva akan melakukan pemberdayaan ekonomi umat.

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Agung Novedi, "Bekerja, Berkorban untuk Mendapat Ridho Allah"

Selasa, Maret 04, 2014

Agung Novedi  adalah calon anggota dewan (CAD) DPRD Kota Cirebon dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) nomor urut 1 untuk Daerah Pemilihan I Harjamukti.

Dilahirkan di Cirebon 7 Nopember 1962, alumni SMA Negeri I Cirebon ini, bukan sosok yang asing bagi warga Harjamukti. Ketika reformasi dan munculnya era partai tahun 1999, Agung ikut terlibat mendeklarasikan Partai Keadilan yang kini berganti nama Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Agung diamanahi sebagai Ketua DPC PK Kecamatan Harjamukti. Saat ini, Agung menjabat sebagai Sekretaris DPD PKS Kota Cirebon.

Selain menjabat sebagai Sekretaris PKS, anak salah seorang veteran di Kota Cirebon ini, juga aktif  sebagai Pembina petani dan nelayan dalam wadah PPNSI dan pada saat bersamaan juga menjabat Ketua Gerakan Cirebon Bermartabat.

Mantan rocker era 80 an ini  sudah bertekad mewakafkan hidupnya untuk kepentingan dakwah Islam. Hingga kini, pria yang akrab disapa Abi oleh warga Kampung Larangan ini disibukan dengan mengisi acara-acara pengajian di majelis talim, DKM, membina pelajar dan mahasiswa, pegawai kantoran, sampai dengan anak SD tidak luput mendapat perhatiannya.

Agung tidak hanya mengajak kebaikan kepada orang, tetapi juga ia praktekan dalam diri dan keluarganya. Salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan agama yang baik kepada anak-anaknya. Anak pertamanya, Zaskia Aulia Fadillah (Hafidzah/Penghafal Alquran 30 Juz)  kini tercatat sebagai mahasiswi LIPIA Jakarta (Program Beasiswa). Anak Keduanya, Ammar Yasir Fadillah yang kini mondok di Pesantren Sulaimaniyah (Beasiswa full ke Turki untuk Program Tahfidz Qur'an, melalui United Islamic Cultural Center of Indonesia.) dan menghapal 15 juz Alquran, sementara si bungsu Mumtaz masih kelas IV SDIT Muhammadiyah (menghapal Juz 30).

Sosok Agung begitu tegas, disiplin dan berani mengambil resiko selagi untuk menolong sesama dan menegakan kebenaran. Aksi heroiknya yang menjadi relawan Aceh (satu hari setelah Tsunami), membuatnya dinobatkan sebagai salah satu tokoh kemanusiaan dari 17 tokoh versi Koran Radar Cirebon, hingga akhirnya ia diminta  PKS untuk memperluas dakwahnya hingga parlemen.

Menurut Agung, parlemen adalah satu mimbar untuk membuat kebaikan itu lebih massif lagi. Pria bersahaja ini mempunyai motto dalam hidupnya “Bekerja, Berkorban untuk Mendapat Ridho Allah”

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Jangan Buta Politik


Bapak, Ibu, Om dan tante serta adik-adik yang punya hak pilih, pemilihan umum (Pemilu) sebentar lagi akan dilaksanakan pada 9 April 2014. Perlu diketahui ibu dan bapak, biaya hidup, kesehatan dan pendidikan, harga elpiji, harga sembako, harga BBM, dll yang menyangkut hajat hidup secara umum,  kebijakannya bergantung pada keputusan politik melalui pembahasan di legislatif.

Anda semua mempunyai hak untuk menentukan dan memilih pemimpin yang adil, calon-calon wakil rakyat yang pro rakyat, menolak kenaikan BBM, dekat dan peduli dengan nasib anda. Jangan sampai kita buta politik, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam proses politik (pemilu). 


MARI JANGAN GOLPUT dan JANGAN SALAH PILIH WAKIL ANDA

Nah,untuk lebih mengenal siapa-siapa wakil-wakil calon legislatif dari PKS, maka mulai hari ini kami akan mengulas profil tiap-tiap caleg PKS DPRD Kota Cirebon.

Don't miss it.



Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Djakaria Sebut Kang Aher Bapak Pendidikan Jawa Barat

Rabu, Januari 08, 2014

CIREBON - Rektor Unswagati Cirebon DR H Djakaria Machmud SE SH MSi mengusulkan Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan sebagai Bapak Pendidikan Jawa Barat.
Pernyataan pria yang akrab disapa Mr Djack dalam Yudisium Fakultas Pertanian di Hotel Zamrud, kemarin, bukan tanpa alasan.

Djakaria menjelaskan, Kang Aher, begitu Gubernur Jawa Barat disapa, layak disebut sebagai Bapak Pendidikan Jabar karena memiliki langkah jelas dalam membangun dunia pendidikan di Jawa Barat.

Mantan Walikota Tangerang ini mencontohkan, Kang Aher telah memberikan beasiswa satu siklus kepada mahasiswa, dan mendirikan simpul-simpul perguruan tinggi di empat titik strategis di luar kota Bandung.

“Kepedulian terhadap bidang pendidikan yang dilakukan Kang Aher sebagai Gubernur Jawa Barat dalam memajukan dunia pendidikan di Jawa Barat sangat terasa. Itu sebagai upaya meingkatkan angka partisipasi kasar dengan berbagai programnya,” papar Djakaria.
Menurutnya, langkah yang dilakukan gubernur perlu mendapat apresiasi.
Unswagati, lanjut Djakaria, mengusulkan serta mendukung  Aher sebagai bapak pembangunan pendidikan Jawa Barat.

“Pantas jika kami usulkan Aher sebagai bapak pendidikan Jabar dengan langkah dan programnya memajukan pendidikan di Jabar,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Unswagati, Dr Ir I Ketut Sukananta MP menyatakan, pada wisuda yang akan digelar 16 sampai 17 Januari nanti, Fakultas Pertanian  akan mewisuda 58 orang yang terdiri dari Program Studi Agroteknologi sebanyak 28 orang, dan Program Agribisnis 30 orang.

“Dari 52 wisudawan, 42 orang adalah  penerima beasiswa satu siklus dari Gubernur Jawa Barat dari jumlah keseluruhan 90 orang penerima beasiswa satu siklus pada tahun akademik 2009/2010,” ungkapnya.

Ditambahkannya, Fakultas Pertanian sedang menyusun payung hukum penelitian tingkat fakultas, mempersiapkan kurikulum berbasis kompetensi dan menyusun metode pengajaran berbasis student centered leaning sebagai persiapan menghadapi pemberlakuan ASEAN Economic Community, serta sebagai upaya dukungan terhadap pengisian akreditasi institusi perguruan tinggi sebagai amanat undang-undang nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. (mas)

sumber: Harian Rakyat Cirebon.

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Menghadirkan Allah Dalam Kemerdekaan Indonesia.

Rabu, Agustus 28, 2013

Oleh: Anwar Yasin 
(Anggota Legislatif DPRD Prov. Jawa Barat, Dapil Ko/Kab. Cirebon & Indramayu)


Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. (pembukaan UUD 1945 alenia ke tiga.)

Makna yang hilang.

Memaknai kemerdekaan akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang mewah karena sulit didapat, entah karena sulit untuk diupayakan atau memang karena kita semua merasa tidak penting lagi memaknai apa arti dari kemerdekaan bangsa kita.

Kemerdekaan sering kita temukan di jalan–jalan, dimana sekelompok pemuda menawarkan air kemasan untuk dibeli dengan tujuan mencari dana kegiatan tujuh belas Agustus-an, atau bahkan lebih tragis lagi hanya sekedar meminta saja.

Acara panggung sering berakhir ricuh karena pentas seni dan atau panggung hiburan selau disamakan dengan tampilnya orkes dangdut tunggal dan penonton yang mabuk dengan Alkohol, sepak bola antar kampung tidak jarang berakhir dengan tawuran antara masing-masing pendukung kampung, sebuah hasil yang jauh dari tujuan semula yang mulia, membangun persahabat dan sportifitas antara sesama anak bangsa.

Penulis tidak anti dengan perayaan kemerdekaan bangsa ini, tapi perlu berapa lama lagihkah bangsa ini terjebak selebrasi dengan miskin makna, hura-hura yang tidak jarang berakhir dengan huru-hara, padahal kemerdekaan bangsa ini dipertahankan oleh Bung Tomo dengan ucapan “Allahu Akbar” .

Mensyukuri kemerdekaan.

Kemerdekaan bangsa ini tidak hanya diraih oleh perjuangan senjata dan diplomasi semata tapi lebih jauh bahwa semua ini hadir dikarenakan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu semua pencapaian berupa kebebasan dalam berbangsa harus menghadirkan syukur atas rahmat Allah  SWT.

Rasa syukur ini yang mulai pudar dalam setiap gerak kita, entah dalam skala bernegara sampai kehidupan kita sehari-hari. Di satu sisi syukur membuahkan qona’ah, sebuah sikap yang membuat kita cukup atas apa yang Allah Karuniakan, rasa kecukupan inilah yang menahan kita untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, korupsi misalnya.

Rasa Syukur di sisi lain menimbulkan keinginan untuk memanfaatkan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan peruntukannya, atau dalam kontkes kemerdekaan memanfaatkannya sesuai dengan amanat Allah SWT.

Setidaknya ada tiga sebab manusia kehilangan rasa syukur kepada Allah SWT, pertama: berfokus pada apa yang diinginkan bukan apa yang dimiliki, kedua: merasa orang lain memiliki karunia yang lebih banyak. Ketiga: merasa pencapaian yang didapat hasil dari kerja sendiri.

Untuk point pertama dan kedua masih ada pengecualian ketika ditempatkan dalam posisi usaha agar menjadi lebih baik maka itu dibolehkan walau tetap dalam  batas-batas tertentu. Namun dalam point ketiga maka itulah sesungguhnya sebab kehilangan rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Ketika kita memonopoli kesuksesan atas pencapaian kita karena kerja keras pribadi semata maka disanalah awal kerusakan baik itu secara individu ataupun dalam lingkup negara. Karena pada saat yang bersamaan kita akan menafikan setiap bantuan orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung. Lebih jauh lagi memonopoli kesuksesan atas pencapaian sukses karena kerja keras pribadi semata akan menghasilkan sebuah kesombongan.

Bila kita sadari bahwa setiap kesempatan yang kita miliki saat ini dihasilkan oleh setiap tetes darah pejuang, maka tentunya hasil karya kita akan jauh berkualitas dari pada yang menganggap bahwa kemerdekaan negara ini sekedar kejadian kebetulan saja.

Maka pada akhirnya, mensyukuri kemerdekaan adalah memahami betul bahwa kemerdekaan bangsa ini adalah sebuah amanah yang Allah SWT berikan kepada kita rakyat Indonesia yang kelak akan Allah tagih pertanggung jawabannya, dan pada saat yang bersamaan menyadari bahwa  kita berhutang pada setiap tetes darah para pejuang bangsa ini atas semua pemcapaian yang kita raih.

Dengan mensyukuri kemerdekaan seperti diatas semoga Allah menambahkan nikmat kepada bangsa ini dan menjauhkan adzab yang pedih.

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Mahfudz Siddiq; Ditolak Kuwu, Tapi di Sambut Warga

Indramayu,25/8/2013. Ada cerita unik yang disampaikan Mahfudz Siddiq MSI ketua komisi I DPRRI saat melakukan serangkaian kunjungan menemui konstituennya di Indramayu Sabtu kemarin 24/8 lalu. "Saya ini biasa mengunjungi masyarakat dan konstituen saya di dapil tidak hanya pada saat reses saja, namun diluar waktu reses saya pun selalu menyediakan waktu untuk mengunjungi masyarakat di dapil saya terlebih momen lebaran ini saya ingin berhalal bihalal dengan konstituen saya di dapil. " ujar Mahfudz Siddiq dalam keterangannya.

Nah kemarin (sabtu, 24/8/2013-red) saya di bawa oleh tim bersilaturahim dan berdialog dengan warga salah satu desa di kecamatan Cikedung Indramayu Jawa barat.
Sambutan hangat dan antusias tampak terasa dan terlihat dari banyaknya warga yang menghadiri halal bi halal yang di gelar panitia."Baru kali ini desa kami di datangi bapak dewan pusat dari Jakarta" kata salah seorang warga desa saat dialog. "Selama ini desa kami belum pernah didatangi oleh pejabat pemerintah, jangankan bupati, camat saja setau saya belum pernah datang ke sini, makanya desa kami jadi tertinggal, miskin dan tidak berkembang, kami mohon bapak dewan bisa sampaikan ke bupati agar memperhatikan desa kami ini." sambung warga lainnya.

Dalam sambutannya Mahfudz Siddiq menyampaikan " Kalo kita ingin desa kita menjadi desa yang maju dan berkembang maka harus di dukung oleh aparat pemerintahan desa yang punya perhatian dan kepedulian yang baik kepada masyarakat desanya dan masyarakat pun harus berani bicara, menyampaikan dan menegur pemimpinnya demi kebaikan dan kemajuan desanya sendiri ", yang di aminkan oleh semua warga yang hadir.

Selanjutnya Mahfudz Siddiq pun menyampaikan permohonan maafnya kepada warga dan aparat desa apabila kedatangan dan kehadirannya di desa tersebut membuat tidak nyaman kuwu dan aparat desa lainnya, dan kepada aparat desa Kang Mahfudz juga mengingatkan bahwa tidak ada aturan yang melarang seorang Anggota Legislatif mengunjungi desa dan konstituennya dimanapaun mereka berada, jangan hanya karena perbedaan bendera dan partai menyebabkan ketidakadilan, bukankah fakta dilapangan ternyata warga desa menerima kedatangan saya dengan hangat dan tangan terbuka? Kalo masyarakat saja menerima kehadiran saya lalu apa alasan kuwunya menolak? tutup kang Mahfudz.

Pertemuan pun di tutup dengan foto bersama dan pemberian bantuan untuk perbaikan mck dan tempat wudhu musholla desa yang sudah lama rusak dan tidak mendapatkan bantuan perbaikan dari desa dan pemda setempat. []

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Orasi Kang Aher Saat Aksi Solidaritas Umat Islam Bandung untuk Mesir

Sabtu, Agustus 17, 2013



Mesir masih menyisakan duka yang mendalam. Setelah kudeta militer terhadap pemerintahan yang sah dari Presiden Mursi, militer mesir kembali melakukan pelanggaran kemanusiaan dengan melakukan pembantaian dan kekerasan atas massa demonstran damai pro mursi di berbagai wilayah Mesir. 

Berikut adalah Orasi Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan saat aksi Solidaritas menentang angresi militer terhadap rakyat sipil tak bersenjata di Mesir.


*. http://www.youtube.com/watch?v=3kegDInG4j0

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Kota Cirebon | Dari Kota Cirebon, Bekerja untuk Indonesia )|(

Berita

Motivasi

 

© Copyright PKS Kota Cirebon 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by www.pkskotacirebon.org.